Neraka merupakan tempat terakhir yang terburuk dan paling berat disediakan obagi orang-orang kafir, musyrik, fasik, ingkar, dan durhaka kepada Allah swt. Mereka akan kekal di dalamnya dengan penuh kesengsaraan dan azab yang sangat dahsyat. Setip detik dan setiap detik merka selalu berhadapan dengan azab dan siksayang pedih.
Nama-nama pintu neraka
Neraka tempat penyiksaan itu kemudian banyak disebut orang dengan nama Jahannam. Jahannam itu memiliki 7 pintu, setiap pintu (tingkat), telah ditetapkan untuk golongan tertentu dari para makhluk-Nya. Pintu (tingkat) neraka yang disebutkan didalam Al Qur'an adalah:
• Hawiyah
Neraka yang diperuntukkan atas orang-orang yang ringan timbangan amalnya, yaitu mereka yang selama hidup didunia mengerjakan kebaikan bercampur dengan keburukan. Orang muslim laki dan perempuan yang tidak tanduknya tidak sesuai dengan ajaran agama Islam, seperti para wanita muslim yang tidak menggunakan jilbab, bagi para lelaki muslim yang sering memakai sutra dan emas, mencari rejeki dengan cara tidak halal, memakan riba dan sebagainya, Hawiyah adalah sebagai tempat tinggalnya. Surah Al-Qari'ah.
• Jahiim
Neraka sebagai tempat penyiksaan orang-orang musyrik atau orang yang menyekutukan Allah. Mereka akan disiksa oleh para sesembahan mereka. Dalam ajaran Islam syirik adalah sebagai salah satu dosa paling besar menurut Allah, karena syirik berarti menganggap bahwa ada makhluk yang lebih hebat dan berkuasa sehebat Allah dan bisa pula menganggap bahwa ada Tuhan selain Allah. Surah Asy-Syu'ara' dan Surah As-Saffat.
• Saqar
Neraka untuk orang munafik, yaitu orang yang mendustakan perintah Allah dan rasul. Mereka mengetahui bahwa Allah sudah menentukan hukum Islam melalui lisan Muhammad, tetapi mereka meremehkan syariat Islam. Surah Al-Muddassir.
• Lazhaa
Neraka yang disediakan untuk orang yang suka mengumpulkan harta, serakah dan menghina orang miskin. Bagi mereka yang tidak mau bersedekah, membayar zakat, atau bahkan memasang muka masam apabila ada orang miskin datang meminta bantuan. Surah Al-Ma’arij.
• Huthamah
Neraka yang disediakan untuk orang yang gemar mengumpulkan harta berupa emas, perak atau platina, mereka yang serakah tidak mau mengeluarkan zakat harta dan menghina orang miskin. Di neraka ini harta yang mereka kumpulkan akan dibawa dan dibakar untuk diminumkan sebagai siksaan kepada manusia pengumpul harta. Surah Al-Humazah.
• Sa'iir
Neraka yang diisi oleh orang-orang kafir dan orang yang memakan harta anak yatim. Surah Al-Ahzab, Surah An-Nisa', Surah Al-Fath dan Surah Luqman.
• Wail
Neraka yang disediakan untuk para pengusaha atau pedagang yang licik, dengan cara mengurangi berat timbangan, mencalokan barang dagangan untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat. Barang dagangan mereka akan dibakar dan dimasukkan kedalam perut mereka sebagai azab dosa-dosa mereka. Surah Al-Tatfif dan Surah At-Tur.
Neraka dipegang (ditahan) oleh tujuh puluh ribu tali, dan setiap talinya di pegang oleh tujuh puluh ribu malaikat.
Jenis hukuman dan siksaan dineraka
Di akhirat para penghuni neraka akan menjalani hukuman berupa siksa yang sangat pedih. Siksaan yang mereka derita dalam neraka itu bermacam-macam sekali, sebagaimana yang difirmankan Allah seperti berikut:
• "Dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka." (At-Taubah [9]:35)
• "Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, supaya mereka diseret, kedalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api."(Al-Mu’min [40]:71-72)
• "Peganglah dia kemudian seretlah dia ketengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya seksaan (dari) air yang amat panas. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia." (Ad-Dukhan [44]:47-49)
• "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya kelehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah [69]:30-32)
• "Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian dari api neraka, disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala-kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada di dalam perut mereka dan juga kulit-kulit mereka. Dan cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, maka mereka dikembalikan kedalamnya, (serta dikatakan kepada mereka): "Rasailah azab yang membakar ini." (Al-Hajj [22]:19-22
Tampilkan postingan dengan label Faith. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Faith. Tampilkan semua postingan
Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj
Diantara tanda-tanda kiamat besar adalah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj. Para ulama berbeda pendapat tentang nasab mereka. Ada yang mengatakan bahwa mereka adalah keturunan Adam.
Al Hafizh Ibnu Hajar lebih memilih pendapat yang mengatakan bahwa mereka adalah dua kabilah dari keturunan Yafits bin Nuh, yang keduanya adalah keturunan dari Adam dan Hawa. Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Abu Said al Khudriy bahwa Nabi saw bersabda,”’Wahai Adam.’ Adam berkata,”Labbaik wa sa’daik dan kebaikan ada pada-Mu.’ Allah berfirman,”Keluarkanlah ba’sannnar.” Adam bertanya,”Apa itu ba’tsannar?” Allah berfirman,”Dari setiap 1000 orang ia ada 999 orang maka pada saat itu anak kecil akan beruban, seorang yang hamil akan meletakkan kandungannya dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal Sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.” (QS. Al Hajj : 2).’ Para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah manakah diantara kami yang satu itu (1000 – 999) ?” beliau saw menjawab,”Bergembiralah kalian, sesungguhnya seorang dari kalian sama dengan 1000 orang dari Ya’juj dan Ma’juj.” Kemudian beliau saw bersabda,"Demi yang jiwaku berada ditangan-Nya, aku berharap kalian menempati seperempat penduduk surga.” Maka kami pun bertakbir. Lalu beliau saw bersabda,”Aku berharap kalian menempati sepertiga penduduk surga.” Maka kami pun bertakbir. Lalu beliau saw bersabda,”Aku berharap kalian menempati separuh penduduk surga.” Maka kami pun bertakbir. Lalu beliau bersabda,”Tidaklah kalian diantara manusia kecuali bagai sehelai bulu hitam dibadan seekor sapi putih atau bagai sehelai bulu putih dibadan seekor sapi hitam.”
Didalam fatwa al Lajnah Ad Daiimah Lil Buhuts wa al Ifta disebutkan bahwa ya’juj dan ma’juj ini berada di benua Asia, sebelah utara Cina.
Amin Muhammad Jamaludin didalam kitabnya “Umur Umat Islam” mengatakan bahwa mereka adalah keturunan Yaftits bin Nuh. Karena Nuh mempunyai tiga orang anak, yaitu Ham, yang menjadi nenek moyang orang Habsyi (Afrika). Anak kedua bernama Sam, yang menjadi nenek moyang bangsa Arab, Persia dan Romawi. Sedangkan anak ketiga bernama Yafits yang menjadi nenek moyang bangsa Turki.
Karenanya Ya’juj dan Ma’juj adalah turunan paman-paman dari Turki (yaitu bangsa-bangsa Cina, Rusia, Mongolia. Bermuka lebar, bermata sipit (kecil), berambut pirang (hitam keputih-putihan atau keruh seperti awan), seakan-akan wajah mereka adalah seperti meja yang bundar. Ciri-ciri mereka yang seperti itu telah diterangkan oleh Rasulullah saw dalam hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Abu Harmalah dari bibinya.
Dimana mereka sekarang ?
Allah swt berfirman :
Artinya : “Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: "Hai Dzulqarnain, Sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, Maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?" Dzulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, Maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (QS. Al Kahfi : 93 – 95)
Jadi Ya’juj dan Ma’juj terkurung dibelakang dinding yang dibangun oleh Dzulqornain untuk mereka dikarenakan mereka banyak melakukan kerusakan dan kejahatan di muka bumi.
Dinding penghalang itu tebal, teguh dan tinggi menjulang yang terbuat dari besi dan tembaga yang dicampur, sehingga mereka tidak dapat melubanginya karena saking tebalnya dan tidak pula dapat memanjatnya karena saking tinggi dan licinnya. Dinding tersebut dibangun antara dua pembatas yang besar yaitu dua gunung yang besar.
Lalu dimanakah letak dinding ini? Ibnu Abbas, tinta umat dan ahli tafsir Al Qur’an mengatakan bahwa ia (dinding itu) terletak di persimpangan negeri Turki dengan Rusia, berdekatan dengan pegunungan kaukasus.” Pegunungan Kaukasus tingginya berkisar antara 1000 sampai dengan 3000 meter)
Al Hafizh Ibnu Hajar lebih memilih pendapat yang mengatakan bahwa mereka adalah dua kabilah dari keturunan Yafits bin Nuh, yang keduanya adalah keturunan dari Adam dan Hawa. Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Abu Said al Khudriy bahwa Nabi saw bersabda,”’Wahai Adam.’ Adam berkata,”Labbaik wa sa’daik dan kebaikan ada pada-Mu.’ Allah berfirman,”Keluarkanlah ba’sannnar.” Adam bertanya,”Apa itu ba’tsannar?” Allah berfirman,”Dari setiap 1000 orang ia ada 999 orang maka pada saat itu anak kecil akan beruban, seorang yang hamil akan meletakkan kandungannya dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal Sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.” (QS. Al Hajj : 2).’ Para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah manakah diantara kami yang satu itu (1000 – 999) ?” beliau saw menjawab,”Bergembiralah kalian, sesungguhnya seorang dari kalian sama dengan 1000 orang dari Ya’juj dan Ma’juj.” Kemudian beliau saw bersabda,"Demi yang jiwaku berada ditangan-Nya, aku berharap kalian menempati seperempat penduduk surga.” Maka kami pun bertakbir. Lalu beliau saw bersabda,”Aku berharap kalian menempati sepertiga penduduk surga.” Maka kami pun bertakbir. Lalu beliau saw bersabda,”Aku berharap kalian menempati separuh penduduk surga.” Maka kami pun bertakbir. Lalu beliau bersabda,”Tidaklah kalian diantara manusia kecuali bagai sehelai bulu hitam dibadan seekor sapi putih atau bagai sehelai bulu putih dibadan seekor sapi hitam.”
Didalam fatwa al Lajnah Ad Daiimah Lil Buhuts wa al Ifta disebutkan bahwa ya’juj dan ma’juj ini berada di benua Asia, sebelah utara Cina.
Amin Muhammad Jamaludin didalam kitabnya “Umur Umat Islam” mengatakan bahwa mereka adalah keturunan Yaftits bin Nuh. Karena Nuh mempunyai tiga orang anak, yaitu Ham, yang menjadi nenek moyang orang Habsyi (Afrika). Anak kedua bernama Sam, yang menjadi nenek moyang bangsa Arab, Persia dan Romawi. Sedangkan anak ketiga bernama Yafits yang menjadi nenek moyang bangsa Turki.
Karenanya Ya’juj dan Ma’juj adalah turunan paman-paman dari Turki (yaitu bangsa-bangsa Cina, Rusia, Mongolia. Bermuka lebar, bermata sipit (kecil), berambut pirang (hitam keputih-putihan atau keruh seperti awan), seakan-akan wajah mereka adalah seperti meja yang bundar. Ciri-ciri mereka yang seperti itu telah diterangkan oleh Rasulullah saw dalam hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Abu Harmalah dari bibinya.
Dimana mereka sekarang ?
Allah swt berfirman :
Artinya : “Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: "Hai Dzulqarnain, Sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, Maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?" Dzulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, Maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (QS. Al Kahfi : 93 – 95)
Jadi Ya’juj dan Ma’juj terkurung dibelakang dinding yang dibangun oleh Dzulqornain untuk mereka dikarenakan mereka banyak melakukan kerusakan dan kejahatan di muka bumi.
Dinding penghalang itu tebal, teguh dan tinggi menjulang yang terbuat dari besi dan tembaga yang dicampur, sehingga mereka tidak dapat melubanginya karena saking tebalnya dan tidak pula dapat memanjatnya karena saking tinggi dan licinnya. Dinding tersebut dibangun antara dua pembatas yang besar yaitu dua gunung yang besar.
Lalu dimanakah letak dinding ini? Ibnu Abbas, tinta umat dan ahli tafsir Al Qur’an mengatakan bahwa ia (dinding itu) terletak di persimpangan negeri Turki dengan Rusia, berdekatan dengan pegunungan kaukasus.” Pegunungan Kaukasus tingginya berkisar antara 1000 sampai dengan 3000 meter)
Masuk Surga Tanpa Hisab
Orang yang masuk surga ada 3 macam, yaitu: Langsung masuk surga tanpa hisab (dihitung kebaikan dan keburukannya), masuk surga setelah dihisab, dan masuk surga setelah diadzab terlebih dahulu di neraka. Tentunya semua orang akan mengidam-idamkan masuk surga tanpa harus masuk neraka. Tapi bagaimana caranya? Mungkin ini adalah pertanyaan yang terlintas di benak setiap orang secara spontan begitu membaca judul ini.
Sempurnakan Tauhid !
Agar masuk surga tanpa hisab, syarat yang harus dipenuhi adalah membersihkan tauhid dari noda-noda syirik, bid’ah, dan maksiat. Alloh berfirman, “Sesungguhnya Ibrohim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Alloh dan hanif (lurus). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb).” (An Nahl: 120). Dalam ayat ini, Alloh memuji nabi Ibrohim dengan menyebutkan empat sifat, yang apabila keempat sifat ini ada pada diri seorang insan, maka ia berhak mendapatkan balasan yang tertinggi, yaitu masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.
Mencontoh Para Nabi Dalam Bertauhid
Di dalam Al Qur’an Alloh memberikan uswah (teladan) kepada kita pada dua sosok manusia yaitu Nabi Ibrohim dan Nabi Muhammad ‘alaihimashsholaatu was salaam. Alloh berfirman, “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Alloh, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja’.” (Al Mumtahanah: 4)
Perhatikanlah, Ibrohim ‘alaihis salam menjadi teladan dengan memurnikan tauhid dengan cara berlepas diri dari kesyirikan. Dalam ayat selanjutnya, Alloh berfirman, “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrohim dan umatnya) ada teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Alloh dan (keselamatan pada) hari kemudian.” (QS. Al Mumtahanah: 6). Tidak diragukan lagi, balasan yang paling besar dan keselamatan yang dimaksud adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Itulah keselamatan yang hakiki yang dinanti oleh setiap jiwa yang pasti akan merasakan mati.
Alloh juga berfirman tentang Nabi kita Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.” (Al Ahzab: 21). Nabi Muhammad adalah orang yang paling paham tentang tauhid, maka orang yang hendak mempraktekkan tauhid dalam dirinya harus mencontoh ajaran beliau. Ya Alloh, masukkanlah kami dalam golongan orang yang mengharap rahmat-Mu dan banyak menyebut-Mu.
Patuh Terhadap Perintah Allah
Nabi Ibrohim adalah seorang yang sangat patuh kepada Allah, teguh dalam ketaatannya dan senantiasa berada dalam ketundukannya, apapun keadaannya. Buktinya ketika beliau diuji dengan perintah untuk menyembelih putra kesayangannya, beliau pun tetap patuh melaksanakannya (Qoulul Mufid karya Syaikh Al Utsaimin). Begitu juga keturunannya, pemimpin para Nabi, Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, hamba Alloh yang paling taat. Alloh berfirman, “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?” (Az Zumar: 9)
Keluar dari Kegelapan Syirik Menuju Cahaya Tauhid
Ibnul Qoyyim mengatakan, “Hanif adalah menujukan ibadah hanya kepada Allah (tauhid) dan berpaling dari peribadatan kepada selain-Nya (syirik).” (Fathul Majid). Inilah sifat orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, yakni betul-betul menjaga kemurnian tauhidnya dengan berpaling sejauh-jauhnya dari kesyirikan dengan segala macam pernak-perniknya. Mujahid berkata, “Nabi Ibrohim adalah seorang imam walaupun beliau beriman seorang diri di tengah kaumnya yang kafir.” (Tafsir Ibnu Katsir, An Nahl: 120). Maksudnya beliau adalah sosok yang selamat dari kesyirikan baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinan.” (Al Jadid karya syaikh Al Qor’awi). Maka untuk memurnikan tauhid, kita harus berpaling dari syirik dan pelakunya.
Tawakkal Kepada Allah, Itu Kuncinya
Mari kita simak sabda Nabi yang paling kita cintai dan sangat mencintai umatnya, Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam tentang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Beliau bersabda, “Beberapa umat ditampakkan kepadaku, lalu kulihat seorang nabi bersama beberapa orang, ada seorang nabi bersama satu atau dua orang, dan ada seorang nabi yang tidak disertai siapapun. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku satu golongan dalam jumlah yang amat banyak, sehingga aku mengira mereka adalah umatku. Maka ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Ini adalah Musa dan kaumnya.’ Aku melihat lagi, ternyata di sana ada jumlah yang lebih banyak lagi. Ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Itulah umatmu, tujuh puluh ribu orang di antara mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.’ Kemudian beliau bangkit dan masuk rumah. Maka orang-orang berkumpul bersama orang-orang yang sudah berkumpul. Sebagian mereka mengatakan, ‘Barangkali mereka adalah para sahabat Rosululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam.’ Sebagian yang lain mengatakan, ‘Boleh jadi mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan sesuatu pun beserta Allah.’ Mereka pun mengatakan banyak hal. Lalu Rosululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka dan mereka memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak meminta untuk (berobat dengan cara) disundut dengan api, dan tidak melakukan tathayyur, serta mereka bertawakal kepada Alloh.’ Lalu ‘Ukkasyah bin Mihshon berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Alloh agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau termasuk golongan mereka.’ Kemudian ada orang lain berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Alloh agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau sudah didahului ‘Ukasyah.’” (HR. Al Bukhori dan Muslim)
Di antara pelajaran paling berharga yang bisa dipetik dari hadits ini adalah bahwa tidak meminta ruqyah, tidak berobat dengan cara disundut dengan besi panas (kayy), dan tidak menganggap akan mengalami kesialan setelah mendengar atau melihat sesuatu (tathoyyur) merupakan wujud dan realisasi dari tawakkal kepada Alloh. Karena itulah Rosululloh menganjurkan kepada umatnya agar tidak melakukan ketiga hal tersebut, karena pengaruh ruqyah dan kayy yang sangat kuat sehingga dikhawatirkan seorang hamba menggantungkan harapan kesembuhannya kepada cara pengobatan tersebut dan bukannya bersandar kepada Alloh. Khusus untuk tathoyyur maka hukumnya tidak diperbolehkan. Kesimpulannya, keadaan orang yang akan masuk surga sangat tergantung dari kadar tawakkal setiap orang, semakin tinggi tingkat tawakkalnya semakin tinggi pula tingkat kesempurnaan tauhidnya. Allohlah tempat kita bersandar dan menyerahkan urusan. Wallohu a’lam.
(Disarikan dari kajian Kitab Tauhid bersama Al Ustadz Abu Isa -hafizhohullah-)
Sempurnakan Tauhid !
Agar masuk surga tanpa hisab, syarat yang harus dipenuhi adalah membersihkan tauhid dari noda-noda syirik, bid’ah, dan maksiat. Alloh berfirman, “Sesungguhnya Ibrohim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Alloh dan hanif (lurus). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb).” (An Nahl: 120). Dalam ayat ini, Alloh memuji nabi Ibrohim dengan menyebutkan empat sifat, yang apabila keempat sifat ini ada pada diri seorang insan, maka ia berhak mendapatkan balasan yang tertinggi, yaitu masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.
Mencontoh Para Nabi Dalam Bertauhid
Di dalam Al Qur’an Alloh memberikan uswah (teladan) kepada kita pada dua sosok manusia yaitu Nabi Ibrohim dan Nabi Muhammad ‘alaihimashsholaatu was salaam. Alloh berfirman, “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Alloh, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja’.” (Al Mumtahanah: 4)
Perhatikanlah, Ibrohim ‘alaihis salam menjadi teladan dengan memurnikan tauhid dengan cara berlepas diri dari kesyirikan. Dalam ayat selanjutnya, Alloh berfirman, “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrohim dan umatnya) ada teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Alloh dan (keselamatan pada) hari kemudian.” (QS. Al Mumtahanah: 6). Tidak diragukan lagi, balasan yang paling besar dan keselamatan yang dimaksud adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Itulah keselamatan yang hakiki yang dinanti oleh setiap jiwa yang pasti akan merasakan mati.
Alloh juga berfirman tentang Nabi kita Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.” (Al Ahzab: 21). Nabi Muhammad adalah orang yang paling paham tentang tauhid, maka orang yang hendak mempraktekkan tauhid dalam dirinya harus mencontoh ajaran beliau. Ya Alloh, masukkanlah kami dalam golongan orang yang mengharap rahmat-Mu dan banyak menyebut-Mu.
Patuh Terhadap Perintah Allah
Nabi Ibrohim adalah seorang yang sangat patuh kepada Allah, teguh dalam ketaatannya dan senantiasa berada dalam ketundukannya, apapun keadaannya. Buktinya ketika beliau diuji dengan perintah untuk menyembelih putra kesayangannya, beliau pun tetap patuh melaksanakannya (Qoulul Mufid karya Syaikh Al Utsaimin). Begitu juga keturunannya, pemimpin para Nabi, Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, hamba Alloh yang paling taat. Alloh berfirman, “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?” (Az Zumar: 9)
Keluar dari Kegelapan Syirik Menuju Cahaya Tauhid
Ibnul Qoyyim mengatakan, “Hanif adalah menujukan ibadah hanya kepada Allah (tauhid) dan berpaling dari peribadatan kepada selain-Nya (syirik).” (Fathul Majid). Inilah sifat orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, yakni betul-betul menjaga kemurnian tauhidnya dengan berpaling sejauh-jauhnya dari kesyirikan dengan segala macam pernak-perniknya. Mujahid berkata, “Nabi Ibrohim adalah seorang imam walaupun beliau beriman seorang diri di tengah kaumnya yang kafir.” (Tafsir Ibnu Katsir, An Nahl: 120). Maksudnya beliau adalah sosok yang selamat dari kesyirikan baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinan.” (Al Jadid karya syaikh Al Qor’awi). Maka untuk memurnikan tauhid, kita harus berpaling dari syirik dan pelakunya.
Tawakkal Kepada Allah, Itu Kuncinya
Mari kita simak sabda Nabi yang paling kita cintai dan sangat mencintai umatnya, Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam tentang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Beliau bersabda, “Beberapa umat ditampakkan kepadaku, lalu kulihat seorang nabi bersama beberapa orang, ada seorang nabi bersama satu atau dua orang, dan ada seorang nabi yang tidak disertai siapapun. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku satu golongan dalam jumlah yang amat banyak, sehingga aku mengira mereka adalah umatku. Maka ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Ini adalah Musa dan kaumnya.’ Aku melihat lagi, ternyata di sana ada jumlah yang lebih banyak lagi. Ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Itulah umatmu, tujuh puluh ribu orang di antara mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.’ Kemudian beliau bangkit dan masuk rumah. Maka orang-orang berkumpul bersama orang-orang yang sudah berkumpul. Sebagian mereka mengatakan, ‘Barangkali mereka adalah para sahabat Rosululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam.’ Sebagian yang lain mengatakan, ‘Boleh jadi mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan sesuatu pun beserta Allah.’ Mereka pun mengatakan banyak hal. Lalu Rosululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka dan mereka memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak meminta untuk (berobat dengan cara) disundut dengan api, dan tidak melakukan tathayyur, serta mereka bertawakal kepada Alloh.’ Lalu ‘Ukkasyah bin Mihshon berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Alloh agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau termasuk golongan mereka.’ Kemudian ada orang lain berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Alloh agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau sudah didahului ‘Ukasyah.’” (HR. Al Bukhori dan Muslim)
Di antara pelajaran paling berharga yang bisa dipetik dari hadits ini adalah bahwa tidak meminta ruqyah, tidak berobat dengan cara disundut dengan besi panas (kayy), dan tidak menganggap akan mengalami kesialan setelah mendengar atau melihat sesuatu (tathoyyur) merupakan wujud dan realisasi dari tawakkal kepada Alloh. Karena itulah Rosululloh menganjurkan kepada umatnya agar tidak melakukan ketiga hal tersebut, karena pengaruh ruqyah dan kayy yang sangat kuat sehingga dikhawatirkan seorang hamba menggantungkan harapan kesembuhannya kepada cara pengobatan tersebut dan bukannya bersandar kepada Alloh. Khusus untuk tathoyyur maka hukumnya tidak diperbolehkan. Kesimpulannya, keadaan orang yang akan masuk surga sangat tergantung dari kadar tawakkal setiap orang, semakin tinggi tingkat tawakkalnya semakin tinggi pula tingkat kesempurnaan tauhidnya. Allohlah tempat kita bersandar dan menyerahkan urusan. Wallohu a’lam.
(Disarikan dari kajian Kitab Tauhid bersama Al Ustadz Abu Isa -hafizhohullah-)
Keberadaan Surga
Keberadaan surga ditunjukkan dengan dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Dari al-
Qur’an, di antaranya adalah firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada
waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.”
(QS. An-Najm: 13-15)
Disebutkan di dalam as-Shohihain (riwayat al-Bukhori dan Muslim) dari hadits Anas
rodhiyAllohu ‘anhu dalam kisah Isro’ Mi’roj bahwa Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam
melihat Sidrotil Muntaha dan melihat di sisinya ada Jannatul Ma’wa. Beliau bersabda,
“Kemudian Jibril membawaku pergi hingga berhenti di Sidrotil Muntaha, maka Sidrotil
Muntaha itu diliputi warna-warni yang aku sendiri tidak mengetahui apa itu. Lalu
beliau bersabda, “Kemudian aku masuk ke dalam surga dan ternyata di dalamnya
bertahtakan mutiara dan debunya terbuat dari misik.” (HR al-Bukhori dan Muslim)
Dan di dalam riwayat lain dari Ibnu Umar rodhiyAllohu ‘anhu, Rasululloh shollAllohu
‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian apabila mati maka akan diperlihatkan
kepadanya tempat kembalinya setiap pagi dan sore. Kalau diperlihatkan bahwa dia
termasuk penghuni neraka, maka dia akan menjadi penghuni neraka. Dan Jika
diperlihatkan sebagai penghuni surga, maka dia akan menjadi penghuni surga. Lalu
dikatakan, “Inilah tempatmu hingga Alloh membangkitkanmu pada hari Kiamat.” (HR
al-Bukhori dan Muslim)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa surga adalah
makhluk Alloh subhanahu wata’ala yang telah diciptakan, sebagaimana pula dengan
neraka. Maka orang yang menyelisihi keyakinan ini adalah termasuk ahli bid’ah,
seperti mu’tazilah yang mengatakan bahwa surga belum diciptakan, tetapi baru
diciptakan pada hari Kiamat kelak.
Pintu-Pintu Surga
Alloh subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Robbnya dibawa ke surga berombongrombongan
(pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintupintunya
telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya,
“Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini,
sedang kamu kekal di dalamnya” (QS. Az-Zumar: 73)
Di dalam ayat ini Alloh subhanahu wata’ala menyebutkan bahwa surga memiliki pintupintu,
sebagaimana juga neraka. Dan pintu-pintu surga apabila nanti telah terbuka,
maka akan terus dibiarkan terbuka tidak sebagaimana pintu neraka, ia akan ditutup rapat
sebab neraka merupakan penjara. Alloh subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang
bertaqwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) surga ‘Adn yang
pintu-pintunya terbuka bagi mereka.” (QS. Shod: 49-50)
Adapun neraka, maka tidak demikian, sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala,
“(Yaitu) api (disediakan) Alloh yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke hati.
Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka.” (QS. Al-Humazah: 6-8)
Rahasia di balik terbukanya pintu surga bagi para penghuninya adalah karena mereka
dapat mondar-mandir, datang dan pergi ke mana saja sesuka mereka. Dan yang ke dua
adalah karena malaikat masuk ke dalam surga setiap waktu dengan penuh sikap lembut
dan ramah. Ini menunjukkan bahwa surga merupakan tempat aman dan kedamaian yang
tidak butuh untuk dikunci (ditutup) pintunya.
Di dalam sebuah hadits, Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Di dalam surga terdapat delapan pintu, salah satunya sebuah pintu yang disebut
dengan “ar-Royyan”. Tidak memasuki pintu tersebut kecuali orang-orang yang
berpuasa.”
Di Manakah Surga Berada?
Alloh subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada
waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.“
(QS. An-Najm: 13-15)
Ayat ini menunjukkan bahwa surga itu berada di atas langit, karena Sidrotil Muntaha
berada di atas langit. Dan juga firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,
“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan
kepadamu.” (QS. Adz-Dzaariyaat:22)
Imam Mujahid berkata, “Yang dimaksudkan adalah surga.” Dan Ibnu Abbas
rodhiyAllohu ‘anhu juga berkata, ” Surga itu berada di atas langit yang ke tujuh.”
Kunci Surga
Rasululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Kunci Surga adalah persaksian tiada ilah yang berhak disembah kecuali Alloh.”
(HR Ahmad 5/242). Dikatakan kepada Wahb bin Munabbih, “Bukankah kunci surga itu
adalah kalimat la ilaha illAlloh? Maka dia menjawab, ” Ya, akan tetapi tiadalah suatu
kunci itu kecuali dia mempunyai gigi-gigi. Jika engkau datang dengan kunci yang
bergigi, maka surga akan terbuka, jika tidak, maka tidak akan terbuka. Beliau
memaksudkan dengan gigi di sini adalah rukun-rukun Islam.
Jalan Menuju Surga
Jalan menuju surga telah disepakati oleh para rosul dari awal hingga akhir hanyalah
satu. Sedangkan jalan ke neraka amatlah banyak tidak terhitung. Oleh karena itu
Alloh subhanahu wata’ala menyebutkan bahwa jalan yang lurus itu hanyalah satu
dan menyebutkan jalan kesesatan adalah banyak. Alloh subhanahu wata’ala
berfirman, artinya,
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah
dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh
kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al an’am: 153)
Dan Ibnu Abbas rodhiyAllohu ‘anhu pernah berkata, “Rasululloh shollAllohu ‘alaihi
wasallam membuatkan kami sebuah garis lurus lalu bersabda, “Ini adalah jalan Alloh“.
Kemudian beliau membuat banyak garis di sebelah kanan dan kirinya lalu bersabda, “Ini
adalah jalan-jalan, dan pada setiap jalan itu terdapat syetan yang menyeru ke sana.”
Lalu beliau membacakan ayat tersebut di atas.
Tingkatan Surga
Surga memiliki tingkatan-tingkatan, sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala,
artinya,
”(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Alloh, dan Alloh Maha Melihat apa
yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imron: 163)
“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh
beberapa derajat ketinggian di sisi Robbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang
mulia.” (QS. Al-Anfaal:4)
Tingkatan surga tertinggi adalah surga Nabi Muhammad shollAllohu ‘alaihi wasallam
yaitu “Al Wasilah” sebagaimana dalam hadits riwayat imam Muslim dari Amr bin al-
Ash rodhiyAllohu ‘anhu bahwa dia mendengar Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam
bersabda,
“Apabila kalian mendengar muadzin (sedang adzan) maka ucapkanlah seperti yang dia
ucapkan kemudian bershalawatlah kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat
kepadaku satu kali maka Alloh akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian
mintalah untukku Al-Wasilah, Karena ia merupakan kedudukan di surga yang tidak
layak kecuali hanya untuk seorang hamba saja dari hamba-hamba Alloh, dan aku
berharap orang itu adalah aku. Barangsiapa yang meminta untukku al-Wasilah maka
dia berhak mendapatkan syafa’atku.” (HR. Muslim).
Nama-nama Surga
Surga biasanya disebut dengan Jannah, dan inilah nama yang umun digunakan untuk
menyebut tempat ini dan segala yang terdapat di dalamnya berupa kenikmatan, kelezatan,
kemewahan, dan kebahagiaan. Nama-nama lain dari Surga di antaranya yaitu:
1. Darus Salam
Sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,
“Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Robbnya dan Dialah
Pelindung mereka disebabkan amal-amal sholeh yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-
An’am: 127)
Surga adalah Darussalam (negri keselamatan) dari segala musibah, kecelakaan, dan
segala hal yang tidak disukai, dan dia merupakan negri Alloh subhanahu wata’ala,
diambil dari nama Alloh “as-Salam”. Alloh subhanahu wata’ala pun mengucapkan salam
atas mereka,
“Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka
minta. (Kepada mereka dikatakan), “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Robb Yang
Maha Penyayang.” (QS. Yaasiin: 57-58)
2. Jannatu ‘adn
Sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,
“(Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orangorang
yang sholeh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang
malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil
mengucapkan), “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat
kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24)
3. Jannatul Khuld
Karena penduduknya kekal di dalamnya dan tidak akan berpindah ke alam (tempat) lain.
Alloh subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
”Katakanlah, “Apakah (azab) yang demikian itu yang baik, atau surga yang kekal yang
dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa?” Surga itu menjadi balasan dan tempat
kembali bagi mereka.” (QS. Al-Furqan: 15)
4. Darul Muqamah
Sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,
“Dan mereka berkata:”Segala puji bagi Alloh yang telah menghilangkan duka cita dari
kami.Sesungguhnya Robb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”
Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di
dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. (QS. Faathir: 34-35)
5. Jannatul Ma’wa, al-Ma’wa artinya adalah tempat menetap sebagaimana firman
Alloh subhanahu wata’ala dalam surat an-Najm di atas. Disebut demikian karena surga
merupakan tempat menetapnya orang-orang mukmin.
6. Jannatun Na’im
7. Al Muqamul Amin
Qur’an, di antaranya adalah firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada
waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.”
(QS. An-Najm: 13-15)
Disebutkan di dalam as-Shohihain (riwayat al-Bukhori dan Muslim) dari hadits Anas
rodhiyAllohu ‘anhu dalam kisah Isro’ Mi’roj bahwa Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam
melihat Sidrotil Muntaha dan melihat di sisinya ada Jannatul Ma’wa. Beliau bersabda,
“Kemudian Jibril membawaku pergi hingga berhenti di Sidrotil Muntaha, maka Sidrotil
Muntaha itu diliputi warna-warni yang aku sendiri tidak mengetahui apa itu. Lalu
beliau bersabda, “Kemudian aku masuk ke dalam surga dan ternyata di dalamnya
bertahtakan mutiara dan debunya terbuat dari misik.” (HR al-Bukhori dan Muslim)
Dan di dalam riwayat lain dari Ibnu Umar rodhiyAllohu ‘anhu, Rasululloh shollAllohu
‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian apabila mati maka akan diperlihatkan
kepadanya tempat kembalinya setiap pagi dan sore. Kalau diperlihatkan bahwa dia
termasuk penghuni neraka, maka dia akan menjadi penghuni neraka. Dan Jika
diperlihatkan sebagai penghuni surga, maka dia akan menjadi penghuni surga. Lalu
dikatakan, “Inilah tempatmu hingga Alloh membangkitkanmu pada hari Kiamat.” (HR
al-Bukhori dan Muslim)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa surga adalah
makhluk Alloh subhanahu wata’ala yang telah diciptakan, sebagaimana pula dengan
neraka. Maka orang yang menyelisihi keyakinan ini adalah termasuk ahli bid’ah,
seperti mu’tazilah yang mengatakan bahwa surga belum diciptakan, tetapi baru
diciptakan pada hari Kiamat kelak.
Pintu-Pintu Surga
Alloh subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Robbnya dibawa ke surga berombongrombongan
(pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintupintunya
telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya,
“Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini,
sedang kamu kekal di dalamnya” (QS. Az-Zumar: 73)
Di dalam ayat ini Alloh subhanahu wata’ala menyebutkan bahwa surga memiliki pintupintu,
sebagaimana juga neraka. Dan pintu-pintu surga apabila nanti telah terbuka,
maka akan terus dibiarkan terbuka tidak sebagaimana pintu neraka, ia akan ditutup rapat
sebab neraka merupakan penjara. Alloh subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang
bertaqwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) surga ‘Adn yang
pintu-pintunya terbuka bagi mereka.” (QS. Shod: 49-50)
Adapun neraka, maka tidak demikian, sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala,
“(Yaitu) api (disediakan) Alloh yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke hati.
Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka.” (QS. Al-Humazah: 6-8)
Rahasia di balik terbukanya pintu surga bagi para penghuninya adalah karena mereka
dapat mondar-mandir, datang dan pergi ke mana saja sesuka mereka. Dan yang ke dua
adalah karena malaikat masuk ke dalam surga setiap waktu dengan penuh sikap lembut
dan ramah. Ini menunjukkan bahwa surga merupakan tempat aman dan kedamaian yang
tidak butuh untuk dikunci (ditutup) pintunya.
Di dalam sebuah hadits, Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Di dalam surga terdapat delapan pintu, salah satunya sebuah pintu yang disebut
dengan “ar-Royyan”. Tidak memasuki pintu tersebut kecuali orang-orang yang
berpuasa.”
Di Manakah Surga Berada?
Alloh subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada
waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.“
(QS. An-Najm: 13-15)
Ayat ini menunjukkan bahwa surga itu berada di atas langit, karena Sidrotil Muntaha
berada di atas langit. Dan juga firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,
“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan
kepadamu.” (QS. Adz-Dzaariyaat:22)
Imam Mujahid berkata, “Yang dimaksudkan adalah surga.” Dan Ibnu Abbas
rodhiyAllohu ‘anhu juga berkata, ” Surga itu berada di atas langit yang ke tujuh.”
Kunci Surga
Rasululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Kunci Surga adalah persaksian tiada ilah yang berhak disembah kecuali Alloh.”
(HR Ahmad 5/242). Dikatakan kepada Wahb bin Munabbih, “Bukankah kunci surga itu
adalah kalimat la ilaha illAlloh? Maka dia menjawab, ” Ya, akan tetapi tiadalah suatu
kunci itu kecuali dia mempunyai gigi-gigi. Jika engkau datang dengan kunci yang
bergigi, maka surga akan terbuka, jika tidak, maka tidak akan terbuka. Beliau
memaksudkan dengan gigi di sini adalah rukun-rukun Islam.
Jalan Menuju Surga
Jalan menuju surga telah disepakati oleh para rosul dari awal hingga akhir hanyalah
satu. Sedangkan jalan ke neraka amatlah banyak tidak terhitung. Oleh karena itu
Alloh subhanahu wata’ala menyebutkan bahwa jalan yang lurus itu hanyalah satu
dan menyebutkan jalan kesesatan adalah banyak. Alloh subhanahu wata’ala
berfirman, artinya,
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah
dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh
kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al an’am: 153)
Dan Ibnu Abbas rodhiyAllohu ‘anhu pernah berkata, “Rasululloh shollAllohu ‘alaihi
wasallam membuatkan kami sebuah garis lurus lalu bersabda, “Ini adalah jalan Alloh“.
Kemudian beliau membuat banyak garis di sebelah kanan dan kirinya lalu bersabda, “Ini
adalah jalan-jalan, dan pada setiap jalan itu terdapat syetan yang menyeru ke sana.”
Lalu beliau membacakan ayat tersebut di atas.
Tingkatan Surga
Surga memiliki tingkatan-tingkatan, sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala,
artinya,
”(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Alloh, dan Alloh Maha Melihat apa
yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imron: 163)
“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh
beberapa derajat ketinggian di sisi Robbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang
mulia.” (QS. Al-Anfaal:4)
Tingkatan surga tertinggi adalah surga Nabi Muhammad shollAllohu ‘alaihi wasallam
yaitu “Al Wasilah” sebagaimana dalam hadits riwayat imam Muslim dari Amr bin al-
Ash rodhiyAllohu ‘anhu bahwa dia mendengar Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam
bersabda,
“Apabila kalian mendengar muadzin (sedang adzan) maka ucapkanlah seperti yang dia
ucapkan kemudian bershalawatlah kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat
kepadaku satu kali maka Alloh akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian
mintalah untukku Al-Wasilah, Karena ia merupakan kedudukan di surga yang tidak
layak kecuali hanya untuk seorang hamba saja dari hamba-hamba Alloh, dan aku
berharap orang itu adalah aku. Barangsiapa yang meminta untukku al-Wasilah maka
dia berhak mendapatkan syafa’atku.” (HR. Muslim).
Nama-nama Surga
Surga biasanya disebut dengan Jannah, dan inilah nama yang umun digunakan untuk
menyebut tempat ini dan segala yang terdapat di dalamnya berupa kenikmatan, kelezatan,
kemewahan, dan kebahagiaan. Nama-nama lain dari Surga di antaranya yaitu:
1. Darus Salam
Sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,
“Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Robbnya dan Dialah
Pelindung mereka disebabkan amal-amal sholeh yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-
An’am: 127)
Surga adalah Darussalam (negri keselamatan) dari segala musibah, kecelakaan, dan
segala hal yang tidak disukai, dan dia merupakan negri Alloh subhanahu wata’ala,
diambil dari nama Alloh “as-Salam”. Alloh subhanahu wata’ala pun mengucapkan salam
atas mereka,
“Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka
minta. (Kepada mereka dikatakan), “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Robb Yang
Maha Penyayang.” (QS. Yaasiin: 57-58)
2. Jannatu ‘adn
Sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,
“(Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orangorang
yang sholeh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang
malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil
mengucapkan), “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat
kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24)
3. Jannatul Khuld
Karena penduduknya kekal di dalamnya dan tidak akan berpindah ke alam (tempat) lain.
Alloh subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
”Katakanlah, “Apakah (azab) yang demikian itu yang baik, atau surga yang kekal yang
dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa?” Surga itu menjadi balasan dan tempat
kembali bagi mereka.” (QS. Al-Furqan: 15)
4. Darul Muqamah
Sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,
“Dan mereka berkata:”Segala puji bagi Alloh yang telah menghilangkan duka cita dari
kami.Sesungguhnya Robb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”
Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di
dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. (QS. Faathir: 34-35)
5. Jannatul Ma’wa, al-Ma’wa artinya adalah tempat menetap sebagaimana firman
Alloh subhanahu wata’ala dalam surat an-Najm di atas. Disebut demikian karena surga
merupakan tempat menetapnya orang-orang mukmin.
6. Jannatun Na’im
7. Al Muqamul Amin
Jabariah dan Qadariah
Jabariah dan Qadariah adalah dua contoh aliran teologi Islam yang berbeda pendapat dalam menyikapi Qada dan Qadar. Jabariah berpandangan bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas dalam hidupnya dan segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Allah SWT semata. Pandangan ini cenderung membuat hidup sudah ditentukan oleh Allah. Sebaliknya, Qadariah berpandangan bahwa Allah memberikan kebebasan pada manusia untuk menentukan hidupnya. Oleh karena itu, apapun yang diperbuat oleh manusia adalah berkat usaha dan kemampuannya sendiri serta tidak ada lagi campur tangan Allah didalamnya.
Dengan demikian, manusia mempertanggungjawabkan segala perbuataanya kepada Allah di akhirat. pemahaman semacam ini cenderung membuat seseorang bersikap aktif dan dan optimis dalam menjalani kehidupannya.
(Sumber : Agama Islam 3, Yudhistira)
Dengan demikian, manusia mempertanggungjawabkan segala perbuataanya kepada Allah di akhirat. pemahaman semacam ini cenderung membuat seseorang bersikap aktif dan dan optimis dalam menjalani kehidupannya.
(Sumber : Agama Islam 3, Yudhistira)
Langganan:
Postingan (Atom)