Masuk Surga Tanpa Hisab

Orang yang masuk surga ada 3 macam, yaitu: Langsung masuk surga tanpa hisab (dihitung kebaikan dan keburukannya), masuk surga setelah dihisab, dan masuk surga setelah diadzab terlebih dahulu di neraka. Tentunya semua orang akan mengidam-idamkan masuk surga tanpa harus masuk neraka. Tapi bagaimana caranya? Mungkin ini adalah pertanyaan yang terlintas di benak setiap orang secara spontan begitu membaca judul ini.
Sempurnakan Tauhid !
Agar masuk surga tanpa hisab, syarat yang harus dipenuhi adalah membersihkan tauhid dari noda-noda syirik, bid’ah, dan maksiat. Alloh berfirman, “Sesungguhnya Ibrohim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Alloh dan hanif (lurus). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb).” (An Nahl: 120). Dalam ayat ini, Alloh memuji nabi Ibrohim dengan menyebutkan empat sifat, yang apabila keempat sifat ini ada pada diri seorang insan, maka ia berhak mendapatkan balasan yang tertinggi, yaitu masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.

Mencontoh Para Nabi Dalam Bertauhid
Di dalam Al Qur’an Alloh memberikan uswah (teladan) kepada kita pada dua sosok manusia yaitu Nabi Ibrohim dan Nabi Muhammad ‘alaihimashsholaatu was salaam. Alloh berfirman, “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Alloh, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja’.” (Al Mumtahanah: 4)
Perhatikanlah, Ibrohim ‘alaihis salam menjadi teladan dengan memurnikan tauhid dengan cara berlepas diri dari kesyirikan. Dalam ayat selanjutnya, Alloh berfirman, “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrohim dan umatnya) ada teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Alloh dan (keselamatan pada) hari kemudian.” (QS. Al Mumtahanah: 6). Tidak diragukan lagi, balasan yang paling besar dan keselamatan yang dimaksud adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Itulah keselamatan yang hakiki yang dinanti oleh setiap jiwa yang pasti akan merasakan mati.
Alloh juga berfirman tentang Nabi kita Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.” (Al Ahzab: 21). Nabi Muhammad adalah orang yang paling paham tentang tauhid, maka orang yang hendak mempraktekkan tauhid dalam dirinya harus mencontoh ajaran beliau. Ya Alloh, masukkanlah kami dalam golongan orang yang mengharap rahmat-Mu dan banyak menyebut-Mu.
Patuh Terhadap Perintah Allah
Nabi Ibrohim adalah seorang yang sangat patuh kepada Allah, teguh dalam ketaatannya dan senantiasa berada dalam ketundukannya, apapun keadaannya. Buktinya ketika beliau diuji dengan perintah untuk menyembelih putra kesayangannya, beliau pun tetap patuh melaksanakannya (Qoulul Mufid karya Syaikh Al Utsaimin). Begitu juga keturunannya, pemimpin para Nabi, Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, hamba Alloh yang paling taat. Alloh berfirman, “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?” (Az Zumar: 9)
Keluar dari Kegelapan Syirik Menuju Cahaya Tauhid
Ibnul Qoyyim mengatakan, “Hanif adalah menujukan ibadah hanya kepada Allah (tauhid) dan berpaling dari peribadatan kepada selain-Nya (syirik).” (Fathul Majid). Inilah sifat orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, yakni betul-betul menjaga kemurnian tauhidnya dengan berpaling sejauh-jauhnya dari kesyirikan dengan segala macam pernak-perniknya. Mujahid berkata, “Nabi Ibrohim adalah seorang imam walaupun beliau beriman seorang diri di tengah kaumnya yang kafir.” (Tafsir Ibnu Katsir, An Nahl: 120). Maksudnya beliau adalah sosok yang selamat dari kesyirikan baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinan.” (Al Jadid karya syaikh Al Qor’awi). Maka untuk memurnikan tauhid, kita harus berpaling dari syirik dan pelakunya.
Tawakkal Kepada Allah, Itu Kuncinya
Mari kita simak sabda Nabi yang paling kita cintai dan sangat mencintai umatnya, Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam tentang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Beliau bersabda, “Beberapa umat ditampakkan kepadaku, lalu kulihat seorang nabi bersama beberapa orang, ada seorang nabi bersama satu atau dua orang, dan ada seorang nabi yang tidak disertai siapapun. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku satu golongan dalam jumlah yang amat banyak, sehingga aku mengira mereka adalah umatku. Maka ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Ini adalah Musa dan kaumnya.’ Aku melihat lagi, ternyata di sana ada jumlah yang lebih banyak lagi. Ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Itulah umatmu, tujuh puluh ribu orang di antara mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.’ Kemudian beliau bangkit dan masuk rumah. Maka orang-orang berkumpul bersama orang-orang yang sudah berkumpul. Sebagian mereka mengatakan, ‘Barangkali mereka adalah para sahabat Rosululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam.’ Sebagian yang lain mengatakan, ‘Boleh jadi mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan sesuatu pun beserta Allah.’ Mereka pun mengatakan banyak hal. Lalu Rosululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka dan mereka memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak meminta untuk (berobat dengan cara) disundut dengan api, dan tidak melakukan tathayyur, serta mereka bertawakal kepada Alloh.’ Lalu ‘Ukkasyah bin Mihshon berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Alloh agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau termasuk golongan mereka.’ Kemudian ada orang lain berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Alloh agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau sudah didahului ‘Ukasyah.’” (HR. Al Bukhori dan Muslim)
Di antara pelajaran paling berharga yang bisa dipetik dari hadits ini adalah bahwa tidak meminta ruqyah, tidak berobat dengan cara disundut dengan besi panas (kayy), dan tidak menganggap akan mengalami kesialan setelah mendengar atau melihat sesuatu (tathoyyur) merupakan wujud dan realisasi dari tawakkal kepada Alloh. Karena itulah Rosululloh menganjurkan kepada umatnya agar tidak melakukan ketiga hal tersebut, karena pengaruh ruqyah dan kayy yang sangat kuat sehingga dikhawatirkan seorang hamba menggantungkan harapan kesembuhannya kepada cara pengobatan tersebut dan bukannya bersandar kepada Alloh. Khusus untuk tathoyyur maka hukumnya tidak diperbolehkan. Kesimpulannya, keadaan orang yang akan masuk surga sangat tergantung dari kadar tawakkal setiap orang, semakin tinggi tingkat tawakkalnya semakin tinggi pula tingkat kesempurnaan tauhidnya. Allohlah tempat kita bersandar dan menyerahkan urusan. Wallohu a’lam.
(Disarikan dari kajian Kitab Tauhid bersama Al Ustadz Abu Isa -hafizhohullah-)

Keberadaan Surga

Keberadaan surga ditunjukkan dengan dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Dari al-
Qur’an, di antaranya adalah firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada
waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.”
(QS. An-Najm: 13-15)
Disebutkan di dalam as-Shohihain (riwayat al-Bukhori dan Muslim) dari hadits Anas
rodhiyAllohu ‘anhu dalam kisah Isro’ Mi’roj bahwa Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam
melihat Sidrotil Muntaha dan melihat di sisinya ada Jannatul Ma’wa. Beliau bersabda,
“Kemudian Jibril membawaku pergi hingga berhenti di Sidrotil Muntaha, maka Sidrotil
Muntaha itu diliputi warna-warni yang aku sendiri tidak mengetahui apa itu. Lalu
beliau bersabda, “Kemudian aku masuk ke dalam surga dan ternyata di dalamnya
bertahtakan mutiara dan debunya terbuat dari misik.” (HR al-Bukhori dan Muslim)
Dan di dalam riwayat lain dari Ibnu Umar rodhiyAllohu ‘anhu, Rasululloh shollAllohu
‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian apabila mati maka akan diperlihatkan
kepadanya tempat kembalinya setiap pagi dan sore. Kalau diperlihatkan bahwa dia
termasuk penghuni neraka, maka dia akan menjadi penghuni neraka. Dan Jika
diperlihatkan sebagai penghuni surga, maka dia akan menjadi penghuni surga. Lalu
dikatakan, “Inilah tempatmu hingga Alloh membangkitkanmu pada hari Kiamat.” (HR
al-Bukhori dan Muslim)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa surga adalah
makhluk Alloh subhanahu wata’ala yang telah diciptakan, sebagaimana pula dengan
neraka. Maka orang yang menyelisihi keyakinan ini adalah termasuk ahli bid’ah,
seperti mu’tazilah yang mengatakan bahwa surga belum diciptakan, tetapi baru
diciptakan pada hari Kiamat kelak.
Pintu-Pintu Surga
Alloh subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Robbnya dibawa ke surga berombongrombongan
(pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintupintunya
telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya,
“Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini,
sedang kamu kekal di dalamnya” (QS. Az-Zumar: 73)
Di dalam ayat ini Alloh subhanahu wata’ala menyebutkan bahwa surga memiliki pintupintu,
sebagaimana juga neraka. Dan pintu-pintu surga apabila nanti telah terbuka,
maka akan terus dibiarkan terbuka tidak sebagaimana pintu neraka, ia akan ditutup rapat
sebab neraka merupakan penjara. Alloh subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang
bertaqwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) surga ‘Adn yang
pintu-pintunya terbuka bagi mereka.” (QS. Shod: 49-50)
Adapun neraka, maka tidak demikian, sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala,
“(Yaitu) api (disediakan) Alloh yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke hati.
Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka.” (QS. Al-Humazah: 6-8)
Rahasia di balik terbukanya pintu surga bagi para penghuninya adalah karena mereka
dapat mondar-mandir, datang dan pergi ke mana saja sesuka mereka. Dan yang ke dua
adalah karena malaikat masuk ke dalam surga setiap waktu dengan penuh sikap lembut
dan ramah. Ini menunjukkan bahwa surga merupakan tempat aman dan kedamaian yang
tidak butuh untuk dikunci (ditutup) pintunya.
Di dalam sebuah hadits, Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Di dalam surga terdapat delapan pintu, salah satunya sebuah pintu yang disebut
dengan “ar-Royyan”. Tidak memasuki pintu tersebut kecuali orang-orang yang
berpuasa.”
Di Manakah Surga Berada?
Alloh subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada
waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.“
(QS. An-Najm: 13-15)
Ayat ini menunjukkan bahwa surga itu berada di atas langit, karena Sidrotil Muntaha
berada di atas langit. Dan juga firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,
“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan
kepadamu.” (QS. Adz-Dzaariyaat:22)
Imam Mujahid berkata, “Yang dimaksudkan adalah surga.” Dan Ibnu Abbas
rodhiyAllohu ‘anhu juga berkata, ” Surga itu berada di atas langit yang ke tujuh.”
Kunci Surga
Rasululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Kunci Surga adalah persaksian tiada ilah yang berhak disembah kecuali Alloh.”
(HR Ahmad 5/242). Dikatakan kepada Wahb bin Munabbih, “Bukankah kunci surga itu
adalah kalimat la ilaha illAlloh? Maka dia menjawab, ” Ya, akan tetapi tiadalah suatu
kunci itu kecuali dia mempunyai gigi-gigi. Jika engkau datang dengan kunci yang
bergigi, maka surga akan terbuka, jika tidak, maka tidak akan terbuka. Beliau
memaksudkan dengan gigi di sini adalah rukun-rukun Islam.
Jalan Menuju Surga
Jalan menuju surga telah disepakati oleh para rosul dari awal hingga akhir hanyalah
satu. Sedangkan jalan ke neraka amatlah banyak tidak terhitung. Oleh karena itu
Alloh subhanahu wata’ala menyebutkan bahwa jalan yang lurus itu hanyalah satu
dan menyebutkan jalan kesesatan adalah banyak. Alloh subhanahu wata’ala
berfirman, artinya,
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah
dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh
kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al an’am: 153)
Dan Ibnu Abbas rodhiyAllohu ‘anhu pernah berkata, “Rasululloh shollAllohu ‘alaihi
wasallam membuatkan kami sebuah garis lurus lalu bersabda, “Ini adalah jalan Alloh“.
Kemudian beliau membuat banyak garis di sebelah kanan dan kirinya lalu bersabda, “Ini
adalah jalan-jalan, dan pada setiap jalan itu terdapat syetan yang menyeru ke sana.”
Lalu beliau membacakan ayat tersebut di atas.
Tingkatan Surga
Surga memiliki tingkatan-tingkatan, sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala,
artinya,
”(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Alloh, dan Alloh Maha Melihat apa
yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imron: 163)
“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh
beberapa derajat ketinggian di sisi Robbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang
mulia.” (QS. Al-Anfaal:4)
Tingkatan surga tertinggi adalah surga Nabi Muhammad shollAllohu ‘alaihi wasallam
yaitu “Al Wasilah” sebagaimana dalam hadits riwayat imam Muslim dari Amr bin al-
Ash rodhiyAllohu ‘anhu bahwa dia mendengar Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam
bersabda,
“Apabila kalian mendengar muadzin (sedang adzan) maka ucapkanlah seperti yang dia
ucapkan kemudian bershalawatlah kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat
kepadaku satu kali maka Alloh akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian
mintalah untukku Al-Wasilah, Karena ia merupakan kedudukan di surga yang tidak
layak kecuali hanya untuk seorang hamba saja dari hamba-hamba Alloh, dan aku
berharap orang itu adalah aku. Barangsiapa yang meminta untukku al-Wasilah maka
dia berhak mendapatkan syafa’atku.” (HR. Muslim).
Nama-nama Surga
Surga biasanya disebut dengan Jannah, dan inilah nama yang umun digunakan untuk
menyebut tempat ini dan segala yang terdapat di dalamnya berupa kenikmatan, kelezatan,
kemewahan, dan kebahagiaan. Nama-nama lain dari Surga di antaranya yaitu:
1. Darus Salam
Sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,
“Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Robbnya dan Dialah
Pelindung mereka disebabkan amal-amal sholeh yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-
An’am: 127)
Surga adalah Darussalam (negri keselamatan) dari segala musibah, kecelakaan, dan
segala hal yang tidak disukai, dan dia merupakan negri Alloh subhanahu wata’ala,
diambil dari nama Alloh “as-Salam”. Alloh subhanahu wata’ala pun mengucapkan salam
atas mereka,
“Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka
minta. (Kepada mereka dikatakan), “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Robb Yang
Maha Penyayang.” (QS. Yaasiin: 57-58)
2. Jannatu ‘adn
Sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,
“(Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orangorang
yang sholeh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang
malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil
mengucapkan), “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat
kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24)
3. Jannatul Khuld
Karena penduduknya kekal di dalamnya dan tidak akan berpindah ke alam (tempat) lain.
Alloh subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
”Katakanlah, “Apakah (azab) yang demikian itu yang baik, atau surga yang kekal yang
dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa?” Surga itu menjadi balasan dan tempat
kembali bagi mereka.” (QS. Al-Furqan: 15)
4. Darul Muqamah
Sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,
“Dan mereka berkata:”Segala puji bagi Alloh yang telah menghilangkan duka cita dari
kami.Sesungguhnya Robb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”
Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di
dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. (QS. Faathir: 34-35)
5. Jannatul Ma’wa, al-Ma’wa artinya adalah tempat menetap sebagaimana firman
Alloh subhanahu wata’ala dalam surat an-Najm di atas. Disebut demikian karena surga
merupakan tempat menetapnya orang-orang mukmin.
6. Jannatun Na’im
7. Al Muqamul Amin

Malin Kondang

Tokoh :
1. Malin
2. Simbok
3. Garwa Malin
4. Presenter
5. Mbakyune Malin
6. Pak Kades
7. Morosepuhe Malin

Malin Kondang

Ing sawijining desa ing tanah jawa,yaiku desa Gamong. Urip sawijining randa lan anake loro ( Nilam lan Malin ). Uripe sarwa kekurangan kanggo mangan wae angel.

Simbok : “ Malin,Malin! ”(bengok-bengok)
Malin : “ Dalem, wonten punapa mbok?”
Simbok : “ Lho kowe kok males-malesan wae ta le. Dheloken kae si Upin dadi juragan pete,bojone wae 5 dhokare 11! ”
Nilam : “ Rungokna Lin, bener kandane simbok. Kowe kudu nyambut gawe, banting tulang, banting kursi, banting guling ”
Malin : “ Walah Yu-Mbak yu. Ning omah kok malah di paido. Wis tak minggat wae ” ( Metu teko omah lan nesu )

Malin menyang kutha, luru panggawean sing apik supaya ora di dukani simbok lan mbakyune. Bareng wis tekan kutha, Malin muter-muter luru gaweanbanjur ketemu karo juragan tahu.

Malin : “ Nuwun Pak, kula badhe ndherek nyambut damel wonten ing mriki menawi kepareng? ”
Juragan : ( Amarga mesakke karo rahine sing melas ) “ Yo wis ayo melu ning omahku “

Ning omahe Juragan Tahu

Juragan Tahu : “ Kowe kerja nyetak tahu yo! “
Malin : “ Inggih Pak ! “

Sawijining dina, pas Malin kerja dheweke ketemu anake Juragan Tahu (Astari). Malin anyul lan nyedhaki

Astari : “ Eh kacung lapo kowe mrene, ora penting. Emange aku manuk mbok siuli “ ( Karo manyun )
Malin : “ Weleh-weleh, cah ayu kok nesu. Mengko nek nesu yo ayune ilang. “
Astari : “ He’e no, aku ayu ( Kemayu ) walah paling kowe ngrayu. Wong lanang kuwi pancen ngono. Akumora iso diapusi.”
Malin : “ Lho….. aku ora ngrayu., aku kuwi jujur ora ngapusi. Suwer samber banyu wis.”
Astari : “ Ana no kesamber banyu ? Yowes tak gebyur kene.” (Astari njupuk banyu sak ember)
Malin : “ Eh….ojo tah !” (Astari karo Malin gudhak – gudhakan)
Byuuuurrrr…. (suara banyune gebyur Malin)
Astari : “ Rasakno kowe, mulane ora usah muni suwer !”






Sawijining dina.

Astari : (ngalamun) “ Malin iku wonge elek, sok ngrayu, gemes aku. Tapi aku kok kangen yo karo Malin ? Ah…ora. Mesti aku ngawur iki, mosok aku kangen karo Malin? Ora mungkin.”

Ora sengaja Malin lewat ning ngarepe Astari karo cengar – cengir.

Malin : “Ehm…ehm, cah ayu kok nglamun. Nglamunke aku yo?”
Astari : “Eh, maafe wae yo aku nglamunke kowe. Emange aku kurang kerjaan kayak owe?” (nanging ing njero atine Astari, dheweke muni pancen nglamunke Malin)
Malin : ” Alah…..ora usah gengsi tho ! ngaku wae !”
Astari : (mulai sebel lan njupuk buku ning sandinge kanggo digubukno Malin) “ Iiiihhh….. Malin….aku sebel karo kowe.”
Malin : (tangane siap nangkis buku) “ Wis tho cah ayu, lara kabeh iki lho !”
Astari : (mandhek gebuku Malin) “ Sak benere aku…..”
Malin : (penasaran) “ Sakbenere kowe lapo? Ayo diteruske nek ngomong !”
Astari : “Aku……………………………..” (Astari isih ora wani ngomong nek dheweke seneng Malin)
Malin : “Kawit mou muni aku – aku terus, ora ngomong – ngomong.
Oooooo ……. Aku ngerti. Kowe seneng karo aku ra?”
Astari : (karo isin – isin lan jawab cepet) “He’e.”
Malin : “Mulane tah ora usah isin – isin ! Aku yo podho wae seneng karo kowe. Piye nek tak lamar? Gelem tah ora?”
Astari : “Nanging kowe kudu kondo kareo Bapakku !”
Malin : “Mesthi iku !”

Sawijining wengi, Malin lunga ning omahe Astari niat nglamar Astari.

Malin : “Assalamu’alaikum.”
Juragan : “Wa’alaikum salam. Kowe tho Malin, ana apa kok sajake wigati banget? Klambine anyar barang.”
Malin : “Mekaten Pak. Kula kula wonten mriki punika nggadahi maksud badhe nglamar Astari.”
Juragan : “Lho niat nglamar kok kowe dhewekan. Kenapa kowe ora ngejak wong tuanem?”
Malin : “Kula sampun mboten gadhah tiyang sepuh lan keluarga Pak.”
Juragan : “Lha terus Astarine ndi?”

Astari langsung metu pas krungu bapake ngundang dheweke.

Astari : “Wonten punapa Pak?” (sajake ethok – ethok ora ngerti sing dikarepake)
Juragan : “Iki lho Malin ameh nglamar kowe. Kowe gelem tah ora?”
Astari : (karo isin – isin) “Kula remen sanget kaliyan Mas Malin Pak.”
Juragan : “Yow is tak restui kowe Malin karo anakku”
Malin : “Matur suwun nggih Pak.” (karo sungkem Bapakke Astari)

Ora let suwe Malin muleh neng kos – kosane.

Sakbare lamarane Malin ditampa, Malin karo Astari kawin. Sakwuse 6 sasi teka kawinan Astari ngamuk. Amarga penghasilan Malin sithik

Astari : “ Piye ta Mas, urip kok mlarat. Kowe iku iso luru duit opo ora? “
Malin : “ Yo-iyo aku tak luru kerja “

Sakbanjure diseneni bojone, Malin lungo luru kerja sing hasile akeh. Dumadakan pas ning dalan dheweke entuk selebaran iklan dadi penyanyi.

Malin : “ Aku melu wae, mbok menawa iso dadi penyanyi “ ( Nyanyi )

Sakwuse entuk selebaran dheweke daftar lan ketampa dadi peserta

Presenter : “ Para pamiyarsa sekalian kita sambut peserta ingkang kita tengga-tengga, Malin Kundang”

Malin munggah panggung lan nyanyi.

Presenter: “ Miturut polling SMS, lan keputusan juri pemenang kontes puniki inggih menika Malin Kundang “

Sakwuse dadi pemenang ning ajang kuwi, dheweke moncer karo jeneng Malin Kondang. Ning pangginan liyane, Simbok entuk warta saka Pak Kades yen Malin siki wis kondang dadi penyanyi.

Pak Kades : “ Mbok putra panjenengan sakniki daos penyanyi terkenal ”
Simbok : “ Ndak nggih no Pak “ ( Kaget )
Pak Kades : “ Yen panjenegan mboten percaya monggo kula aturaken ing kutha ”
Simbok : “ Ayo nduk, melu simbok ning kutha ketemu Malin ”
Nilam : “ Inggih Mbok “

Banjur tekan kutha, Simbok, Nilam, lan Pak Kades menyang omahe malin.

Simbok : “ Pak Kades, iki kok ora tekan – tekan omahe Malin tho?”
Pak Kades : “ Niki badhe tekan, kirang sekedap.”

Banjur tekan omahe Malin.

Simbok : “ Assalamu’alaikum” (karo ngetuk – ngetuk lawang)
Malin : “ Wa’alaikum salam. Sinten nggih? “
Simbok : “ Aku simbokmu Malin ”
Nilam : “ Astagfirullahal adzim Lin, iku simbokmu lan aku mbakyumu ”
Pak Kades : “ Moso’ kowe lali karo simbok lan mbakyumu”
Malin : “ Wong kere ngaku-ngaku dadi mbokku, nek ora yo ora! “
Astari : “ Coba ta Mas, dieling-eling maneh. Iku Simbok lan mbakyumu opo ora ”
Malin : “ Ora yo Dik “
Simbok : “ Yo wis nek kowe ora ngakoni simbokmu. Durhaka kowe Lin. Tak kutuk, tak santet, tak mutilasi, tak. Alah, tak kutuk wae lah. Rungokno Malin, dadio kowe watu sing atos kaya ndasmu ”
Malin : “ Mengko dhisik mbok, aku tak gaya dhisik “ (Malin pose)
Akhire Malin dadi watu amarga durhaka karo simbok
Simbok : “ Mulakno aja durhaka marang wong tua “

Jabariah dan Qadariah

Jabariah dan Qadariah adalah dua contoh aliran teologi Islam yang berbeda pendapat dalam menyikapi Qada dan Qadar. Jabariah berpandangan bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas dalam hidupnya dan segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Allah SWT semata. Pandangan ini cenderung membuat hidup sudah ditentukan oleh Allah. Sebaliknya, Qadariah berpandangan bahwa Allah memberikan kebebasan pada manusia untuk menentukan hidupnya. Oleh karena itu, apapun yang diperbuat oleh manusia adalah berkat usaha dan kemampuannya sendiri serta tidak ada lagi campur tangan Allah didalamnya.
Dengan demikian, manusia mempertanggungjawabkan segala perbuataanya kepada Allah di akhirat. pemahaman semacam ini cenderung membuat seseorang bersikap aktif dan dan optimis dalam menjalani kehidupannya.
(Sumber : Agama Islam 3, Yudhistira)

Mengembangnya Alam Semesta


Dalam Al Qur'an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu
astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta
digambarkan sebagaimana berikut ini:
"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya." (Al Qur'an, 51:47)
Kata "langit", sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini, digunakan di
banyak tempat dalam Al Qur'an dengan makna luar angkasa dan alam semesta. Di sini sekali
lagi, kata tersebut digunakan dengan arti ini. Dengan kata lain, dalam Al Qur'an dikatakan
bahwa alam semesta "mengalami perluasan atau mengembang". Dan inilah yang kesimpulan
yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.
Sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara
terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Para ilmuwan menyamakan
peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang
ditiup.
Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya
diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta
bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan.
Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan
dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki
permulaan, dan ia terus-menerus "mengembang".

Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia,
George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta
senantiasa bergerak dan mengembang.
Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika
mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan
bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. Sebuah alam semesta, di
mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain, berarti bahwa alam semesta
tersebut terus-menerus "mengembang". Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun
berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang. Kenyataan ini
diterangkan dalam Al Qur'an pada saat tak seorang pun mengetahuinya. Ini dikarenakan Al
Qur'an adalah firman Allah, Sang Pencipta, dan Pengatur keseluruhan alam semesta.
Disadur dari HarunYahya